DARI DOLANAN KE ZERO WASTE, RW 14 & RW 08 JELO ATASI SAMPAH RUMAH TANGGA
- Jun 17, 2026
- Tim Reportase KIM Swara Jelo Jember Lor
- Kegiatan Jelo, Destana Tagana Jelo, Komunitas Jelo, Aneka Neka Jelo Jember Lor

Dari lagu dolanan yang mencerminkan cara tradisional menutup limbah dengan daun bambu, kini warga Jelo bergerak dengan komposter, bank sampah, dan kesepakatan lingkungan. Jelo Zero Waste 2026 bukan sekadar slogan, melainkan budaya baru: memilah di sumber, mengolah di rumah, dan memanfaatkan kembali.
SWARA JELO KIM ID JEMBER LOR —Lirik lagu dolanan anak “Ayo ngising, ning kebon… tutupi godong pring, ben garing…” yang dulu jadi guyonan sederhana kini terasa relevan sebagai refleksi budaya. Ia merekam cara tradisional masyarakat Jawa mengelola limbah, menutup kotoran dengan daun bambu agar cepat terurai. Dari humor masa kecil itu, kini warga Jelo menapaki jalan baru melalui Jelo Zero Waste 2026, sebuah gerakan modern yang berangkat dari dapur rumah tangga.
Dua RW Jadi Titik Penting
Pada Minggu, 14 Juni 2026, RW 14 Tegalrejo Jelo di bawah kepemimpinan Ketua RW Bapak Iwan Budianto dan PKK RW 8, sukses menggelar sosialisasi dan praktik pengolahan sampah organik rumah tangga. Dua hari kemudian, Selasa, 16 Juni 2026, giliran RW 08 Krajan Jelo yang dipimpin Ketua RW Bapak M. Arso melaksanakan kegiatan serupa.
Acara di RW 08 menjadi istimewa karena dihadiri langsung oleh Lurah Jember Lor, Moh. Zaim Ilmi, S.Sos., M.Si., serta Ketua TP PKK Kelurahan Jember Lor, Ibu Nursyamsida Tohari, S.E., M.M. Kehadiran mereka memberi dukungan moral sekaligus menegaskan bahwa gerakan Zero Waste adalah agenda bersama kelurahan, yang berasal dari inisiatif komunitas yang ada di Jember Lor.
Garda Terdepan: Ibu PKK dan Dapur Rumah Tangga
Dalam setiap sesi, ibu‑ibu PKK dan ibu rumah tangga disebut sebagai garda terdepan. Kebiasaan memilah sampah harus dimulai dari dapur, sumber utama sampah sehari‑hari. Dengan membawa contoh sampah organik, non‑organik, dan residu, warga berlatih langsung cara memilah dan mengolah.
Bagus Hadi Cahyono dari Jelo Urban Verdant Collective menegaskan, “Pemilahan sampah akan berhasil ketika organik dan non‑organik dipisah dalam wadah terpisah. Ini memudahkan proses berikutnya, baik pengolahan kompos maupun pengelolaan non organik serta residu,” paparnya.
Dukungan Ekosistem Bank Sampah
Gerakan ini diperkuat oleh kehadiran bank sampah lokal: Bank Sampah Ciliwung Asri (RW 25 Wetan Kantor), Bank Sampah Gatotkaca (RW 7 Gang Anker, Krajan Jelo), serta Bank Sampah Marinda (RW 15 Tegalrejo Jelo). Mereka menjadi mitra penting dalam menampung dan mengelola sampah non‑organik, sehingga pemilahan di rumah tangga benar‑benar bermakna.
Prioritas Bantaran Sungai
RW di bantaran sungai Bedadung, Rembangan, Antrogan, dan Kalijompo menjadi kawasan prioritas. Pemukiman padat dengan gang sempit dan rumah berhimpitan membuat masalah sampah lebih kompleks. Karena itu, pelatihan di RW 14 dan RW 08 menjadi contoh nyata bagaimana warga bantaran sungai bisa memulai perubahan dari rumah masing‑masing.
Makna Gerakan JELO ZERO WASTE 2026
Dari lagu dolanan yang mencerminkan cara tradisional menutup limbah dengan daun bambu, kini warga Jelo bergerak dengan komposter, bank sampah, dan kesepakatan lingkungan. Jelo Zero Waste 2026 bukan sekadar slogan, melainkan budaya baru: memilah di sumber, mengolah di rumah, dan memanfaatkan kembali.
SWARA JELO KIM ID JEMBER LOR
Dump Honjuk!
Ikuti kabar komunitas di: swarajelo.kim.id | IG: @kimswarajelo | TikTok: @swara.jelo.kim.id | YouTube: Swara Jelo Jember Lor