Jembatan Semanggi dan Kenangan, Jejak Nostalgia Warga Jember
- Jan 19, 2026
- Istono 'Genjur' Asrijanto
Di tengah hiruk-pikuk Jember yang makin ramai dan mulai macet di beberapa ruas jalan, ada satu sudut yang menyimpan kenangan banyak orang, ia adalah Jembatan Semanggi. Bagi mereka yang tumbuh di era 1950 sampai 1970-an, jembatan ini bukan cuma penghubung antarwilayah, tapi juga saksi hidup keseharian masyarakat di sekitar Sungai Bedadung.
Sampai awal 1990 an masih teringat, saat saya melintasi jembatan semanggi dengan rangka besi dan hanya selebar 4 meter membentang di sungai bedadung, yang pada masa itu telah ditutup.
Sebuah foto lawas yang diunggah oleh Retno Winarni di grup Facebook Nostalgia Kampung Jember mengundang banyak komentar. Foto itu menampilkan jembatan bambu sederhana yang membentang di atas sungai, dikelilingi pepohonan lebat. Tak ada keterangan pasti, hanya disebut “Jalan Sumatra tahun 1950-an.” Tapi banyak yang menduga, itu adalah cikal bakal Jembatan Semanggi.
Salah satu komentar datang dari Joko Wid, yang mengenang masa kecilnya sekitar tahun 1965. Ia menulis bahwa saat musim kemarau, ia sering mengantar almarhum ibunya mencuci di Sungai Bedadung, turun dari RS PTP 27—yang sekarang dikenal sebagai RS Jember Klinik.
Komentar itu disambut hangat oleh Gerry Saerang, yang bertanya soal tahun kejadiannya dan memuji semangat Pak Joko yang masih ingat sejarah kampung halamannya.
Tak sedikit warga lain yang ikut menambahkan kenangan mereka, seperti Nugroho Nugroho bilang, “Sekarang Jembatan Semanggi... dulu masih ada jukung, perahu kecil buat nyebrang.”
Juga Solik Kenari menyebutnya “Gladak Drayer.” sebuah istilah penamaan lokal di lingkungan Tegalboto, Sumbersari dan Wetan Kantor Jember Lor.
Anton W juga menambahkan komentar singkat, “Membelah Bedadung,” ditimpali singkat oleh Didik Sudjatmiko, “Semanggi tempo dulu.”
Ada juga yang bertanya, “Keranjang yang dipikul itu sekarang apa masih?”
Potongan-potongan cerita ini membentuk semacam mozaik kenangan. Tentang jukung yang dulu hilir-mudik, keranjang pikul yang dibawa ke pasar, dan jalan setapak dari RS PTP 27 yang kini menjadi RS IHC Jember Klinik itu, di sungai Bedadung yang membelah kota Jember tersebut.
Kini, Jembatan Semanggi berdiri kokoh dengan struktur modern. Tapi kenangan, cerita, banjir luapan sungai Bedadung dan tentang versi lainnya tetap mengalir bersama air Bedadung—terkadang tenang, terkadang bergolak akibat debit air yang tinggi akibat curah hujan di hulu Sungai Bedadung dari lereng Gunung Raung dan Pegunungan Argopuro, kedung Bedadung, dan ruang main anak masa 1970 - 1980 an yang penuh cerita.
Sumber Sosial Media:
Grup Facebook: Nostalgia Kampung Jember
Tautan diskusi: facebook.com/groups/jembernostalgia/permalink/25465944933075510
Pengunggah foto: Retno Winarni
Komentar nostalgia: Joko Wid, Gerry Saerang, Nugroho Nugroho, Solik Kenari, Anton W, Didik Sudjatmiko, dan lainnya
Disclaimer:
Artikel ini mengutip komentar publik dari media sosial untuk tujuan dokumentasi sejarah lokal. Jika Anda adalah pemilik konten dan ingin memberikan klarifikasi atau permintaan penghapusan, silakan hubungi kami.