Ketika Kuas dan Pikiran Berkolaborasi: Forum Tiga KIM dan KPJ (Kelompok Perupa Jember) Bahas Terapi Seni

  • Nov 30, 2025
  • Friscilia Vita Anggraeni

 

JEMBER, 30 November 2025 — Sebuah forum diskusi yang unik dan penuh gagasan segar terselenggara di Gedung Jember Nusantara melalui kolaborasi tiga Kelompok Informasi Masyarakat (KIM), yakni KIM Swara Jelo, KIM Jeki, dan KIM Sumbersari. Mengusung tema hubungan antara Neuro Science dan Art Therapy, kegiatan ini membuka ruang dialog antara para akademisi, terapis, dan komunitas seni, termasuk kehadiran aktif Komunitas Perupa Jember.

Forum ini dirancang untuk menggugah pemahaman baru tentang bagaimana aktivitas berkesenian tidak hanya menghasilkan karya visual, tetapi juga memberi pengaruh nyata terhadap kesehatan otak dan kondisi psikologis seseorang. Dua narasumber dihadirkan untuk menjelaskan sisi ilmiah dan praktisnya: Ibu Wulan, yang berfokus pada Neuro Science, serta Ibu Bayu, praktisi Art Therapy.

Dalam penjelasannya, Ibu Wulan memaparkan bagaimana proses kreatif dapat mengaktifkan berbagai jaringan saraf di otak. Ia menjelaskan bahwa ketika seseorang tenggelam dalam kegiatan seni, bagian otak yang berfungsi mengatur emosi dan konsentrasi bekerja lebih optimal. Menurutnya, seni tidak bisa dipandang sekadar kegiatan estetika, melainkan sebuah aktivitas biologis yang mampu meredakan stres dan meningkatkan ketenangan mental.

Melanjutkan sesi tersebut, Ibu Bayu menyampaikan bagaimana terapi seni menjadi alat bagi individu untuk memproses pengalaman emosional yang sulit diucapkan secara verbal. Ia menekankan bahwa keindahan bukan tujuan utama; yang penting adalah ekspresi yang muncul dari dalam diri. Ia turut membagikan contoh penerapan Art Therapy dalam membantu berbagai kelompok masyarakat yang mengalami trauma maupun tekanan psikologis.

Dalam diskusi terbuka, para seniman dari Komunitas Perupa Jember menyampaikan beragam pertanyaan dan pandangan tentang bagaimana temuan dari Neuro Science dapat memperkaya proses kreatif mereka, sekaligus membuka peluang menjadikan karya seni sebagai jembatan penyembuhan bagi orang lain. Di tengah diskusi tersebut, perwakilan KIM Jeki, David, turut menyoroti bahwa bahkan saat ini masih terdapat isu yang harus mendapat perhatian serius terkait kondisi seorang anak di salah satu KIM yang berada di wilayah pusat kota, sehingga pendekatan kesehatan mental menjadi semakin relevan dan mendesak untuk diperkuat melalui kegiatan-kegiatan edukatif seperti ini.

Ketua KIM Swara Jelo, Bapak Genjur, menyampaikan apresiasinya terhadap antusiasme peserta serta kolaborasi antar-KIM dalam menyukseskan kegiatan ini. Ia berharap kerja sama seperti ini dapat terus berlanjut dan melahirkan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat. “Kami ingin menghadirkan ruang belajar yang mendorong kreativitas sekaligus memperhatikan kesehatan mental. Kegiatan ini adalah langkah awal dari banyak hal positif yang ingin kami wujudkan bersama,” ungkapnya.

Diskusi ditutup dengan pesan bahwa integrasi seni dan ilmu pengetahuan bukan hanya memperkaya wawasan, tetapi juga membuka jalan baru bagi masyarakat Jember untuk menjadikan seni sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan jiwa.