Silahturahim Guyuban Kampung Jelo Bareng RW 13 Jl. Mawar Ling. Tegalrejo

  • Apr 06, 2026
  • Tim Reportase KIM Swara Jelo Jember Lor - Red IAS
  • Kegiatan Jelo, Destana Tagana Jelo, Komunitas Jelo

Gotong Royong Lingkungan untuk Kerja Bakti Penanganan Lanjutan Pohon Roboh di RW 13 dan RW 14 Ling. Tegalrejo Jl. Mawar

SWARA JELO KIM ID -Silaturahim Guyuban Kampung Jelo di Lingkungan Tegalrejo pada 5 April 2026 berlangsung hangat, masih dalam suasana bulan Syawal. Pertemuan warga RW 13 dan RW 14 di Jl. Mawar bersama Ketua RW 19 Bapak Agus Gunawan dan Korling Tegalrejo Bapak Achmadi, serta Destana Jelo dan relawan, membuka ruang obrolan yang mengalir tentang problem pasca bencana pohon roboh akibat hujan deras dan angin kencang pada 28 Maret lalu.

Meski kerja bakti sebelumnya sudah dilakukan, keterbatasan alat pemotong kayu membuat dua titik pohon roboh di Kali Jompo belum sepenuhnya teratasi. Diameter batang yang besar menjadi tantangan tersendiri. Dari silaturahim ini lahirlah kesepakatan untuk melanjutkan giat gotong royong pada Minggu, 12 April 2026, di titik Kali Jompo Jl. Mawar Gg III, dengan tujuan menyelesaikan pemotongan pokok batang pohon yang masih melintang di sungai.  

Obrolan warga tidak hanya membahas teknis kerja bakti, tetapi juga pentingnya kesiapsiagaan lingkungan. Salah satu poin utama adalah alur komunikasi saat bencana terjadi dan pasca bencana, agar laporan cepat bisa segera ditindaklanjuti. Ketua RW 19, Bapak Agus Gunawan, menegaskan, “Respon di bawah 1x24 jam dengan pengumpulan cepat data dan informasi kejadian adalah proses penting. Dengan begitu, tindakan awal bisa segera dilakukan secara tepat, terukur, dan terkelola,” ungkapnya. 

Prosesi silaturahim ini memperlihatkan bahwa kebersamaan warga bukan hanya soal memperbaiki lingkungan, tetapi juga membangun sistem respon bencana yang lebih tangguh. Gotong royong dan kerja bakti tetap menjadi pilihan utama, karena kampung yang kompak adalah kampung yang siap menghadapi tantangan alam bersama. Proses ini adalah menjawab tantangan lingkungan untuk bereaksi dan merespon kejadian bencana secara kultural juga struktural sekaligus terkelola dan terukur untuk kapasitas masing-masing pihak yang terkait.