TRANSFORMASI FOKLORE MENJADI PANGGUNG, KETIKA CERITA LELUHUR BERNAPAS KEMBALI
- Jun 08, 2026
- Tim Reportase KIM Swara Jelo Kelurahan Jember Lor
- Aneka Neka Jelo Jember Lor

Oleh: Istono ‘Genjur’ Asrijanto —Penyuka kopi pahit tanpa gula, rokenrol, inisiator Jelo Urban Verdant Collective.
Ada sesuatu yang lembut dan keras sekaligus ketika sebuah legenda turun dari bibir orang tua ke panggung lampu sorot. Kadang lembut karena ia membawa napas leluhur, keras karena ia menuntut pembacaan ulang agar relevan bagi penonton hari ini. Mengangkat folklore—mitos, cerita rakyat, ritual lisan—ke dalam bentuk pertunjukan bukan sekadar memindahkan kata ke gerak, itu adalah tindakan merawat memori kolektif sambil memberi ruang bagi imajinasi baru bagi siapapun yang terlibat di dalamnya secara organis.
Mengapa kita perlu membawa folklore ke panggung
Folklore yang tetap hidup bukan yang disimpan di rak naskah, melainkan yang disentuh, didengar, dan dirasakan. Ketika cerita rakyat dipentaskan, ia menjadi living heritage dan bukan sekedar artefak museum, melainkan pengalaman bersama. Di atas panggung, pesan moral, kearifan lokal, dan humor tradisi menemukan cara baru untuk menyentuh generasi muda—tanpa menggurui, hanya mengundang untuk merasakan nilai-nilai yang coba disampaikan
Prosesi riset, dramatisasi, dan cinta pada detail
Transformasi awal dimulai dari telinga yang mau mendengar. Seniman turun ke desa, duduk di emperan rumah, merekam suara tetua, menulis ulang fragmen yang masih berdenyut. Dari sana lahir naskah yang bukan meniru kata‑kata lama, melainkan menafsirkan esensi atas konflik yang relevan, tokoh yang bernapas, dan ritme yang mengikat penonton. Musik tradisi dipadukan dengan aransemen kontemporer, dibalut kostum penari menari di antara pakem dan estetika baru, koreografi apik merajut simbol lama menjadi bahasa tubuh yang bisa dimengerti hari ini.
Tantangan yang harus dihadapi dengan hati-hati
Ada garis tipis antara revitalisasi dan komodifikasi. Beberapa cerita sakral tak boleh dipertontonkan sembarangan, termasuk beberapa ritual memerlukan etika, izin dan penghormatan. Di sinilah dialog menjadi kunci kolaborasi dengan pemilik tradisi, transparansi niat, dan penghormatan pada pakem memastikan karya tidak sekadar pertunjukan kosong tanpa nilai, tetapi juga rekonsiliasi etis bahkan isi kepala dan rasa hati. Tantangan lain adalah pendanaan, pengelolaan berkelanjutan dan ruang—pertunjukan berkualitas butuh sumber daya; tanpa itu, folklore yang kadang terselip di momen kecil itu tetap terkungkung di kata dan cerita sambil lalu belaka.
Ketika panggung menjadi ruang pembelajaran dan ekonomi kreatif
Pertunjukan yang lahir dari folklore bukan hanya estetika, ia akhirnya membuka peluang ekonomi—konten lokal yang tertata apik, turisme budaya, workshop dengan anak muda, produksi lokal dan banyak lagi yang lainnya.
Lebih penting lagi, ia menjadi ruang pendidikan tak formal bagi anak muda yang menonton belajar tutur bahasa leluhur, nilai gotong royong, dan cara memandang alam kehidupan serta terapan dari waktu ke waktu. Seni pertunjukan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara komunitas lokal, antara generasi, antara tetua dan para muda dan juga penonton global.
Cara bekerja yang berhasil adalah perpaduan kolaborasi dan keberanian interpretatif
Proyek paling hidup adalah yang melibatkan banyak suara tetua adat, penari muda, musisi tradisi, dramaturgi, dan kurator.
Keberanian interpretatif diperlukan—bukan untuk merusak, tetapi untuk membuka. Menyajikan legenda dari sudut pandang yang tak terduga, misalnya menceritakan ulang tokoh antagonis sebagai korban struktur sosial, memberi ruang bagi empati baru dan diskusi kritis serta cara pandang berpikir yang baru.
Penutup menginspirasi
Mengangkat folklore ke panggung adalah tindakan sepenuhnya cinta sebenarnya, cinta pada bahasa, pada tanah, cinta pada orang yang menuturkannya. Ketika cerita‑cerita lama diberi napas baru, mereka tak lagi sekadar masa lalu, mereka menjadi alat untuk memahami masa lalu, masa kini dan membayangkan masa depan dengan perasaan lapang dan bukan dengan gelisah.
Di atas panggung, legenda menjadi cermin—membiaskan wajah kita sendiri, menantang, menghibur, dan mengundang perubahan.
Akhirnya, panggung bukan hanya tempat pementasan, ia adalah ruang pertemuan antara memori dan kemungkinan. Ketika folklore tampil lagi, ia mengingatkan kita bahwa akar yang kuat memberi kita keberanian untuk tumbuh ke arah yang tak terduga secara bahagia dengan cara yang menyenangkan sekaligus menenangkan.
Jember, 08 April 2026